Thursday, June 30, 2005

Human Relation

Beberapa waktu yang lalu, gue maen ke rumah temen, tepatnya sich temennya nyokap gue, di daerah Tanjung Duren Grogol. Pada saat gue nyampe, di ruang tamunya tergeletak seorang nenek dalam keadaan sakit. Nenek tersebut sudah tua, dan sepertinya sangat kesakitan. Ternyata nenek tersebut kena sakit Kanker Paru-Paru.

Anak-anak tante tersebut dengan telaten merawat nenek tersebut. Ada yang melap keringetnya, ada yang memijitinya, pokoknya nenek tersebut benar-benar dilayani oleh mereka. Bahkan, anak bungsu dari tante tersebut merawat nenek tersebut sambil berkaca-kaca. Sepertinya mereka sayang sekali dengan nenek tersebut.

Cerita punya cerita, ternyata sakit nenek tersebut telah sampai pada tahap terminal. Lalu apakah keluarga tersebut menyerah? TIDAK!!! mereka tetap berusaha agar nenek tersebut sembuh. Karena dokter sudah menyerah, mereka menggunakan jalur penyembuhan alternatif. Semua kebutuhan nenek tersebut dipenuhi. Dari tabung oksigen, sampai obat-obatan yang seabrek dan tentunya tidak murah. Bahkan ketika nenek tersebut harus ke rumah sakit, sementara karena posisi rumah mereka yang di gang tidak memungkinkan ambulans masuk, anak sulung tante tersebut dengan sukarela dan senang hati menggendong Sang Nenek ke ambulans.

Sekarang siapakah nenek tersebut?

Bukan siapa-siapa sich, nenek tersebut "hanya" pembantu mereka. Sang nenek telah ikut keluarga tersebut selama lebih dari 40 tahun. Nenek tersebut sepertinya telah menjadi keluarga mereka.

Actually it's a heart warming event isn't it? How a human relation can be so beautifull.

Thursday, June 16, 2005

9949

Hari-hari ini Indonesia memulai babak baru. Sekarang rakyat Indonesia punya koneksi langsung dengan presidennya. Mereka bisa langsung sms ke 9949. Awalnya, hal ini, mungkin, "keisengan" dari presidennya. Akhirnya malah jadi hal yang serius.

Seru juga melihat cara rakyat menanggapi teknologi.

Wednesday, June 08, 2005

Watch what you're eating!

An interesting story posted in Yohan Handoyo's blog. About how a delicacy turns a species almost into extinction. It's about an ancient chinesee delicacy, the shark fin dishes. I feel that this article was in tune with my previous one. Both articles pictures how human being desires to stay fit and healthy has turned them into never stoping eating monsters.

Hm... the human being are indeed equiped with the most fearsome weapon on earth. A deadly combination of their brain and their never ending thrist. Always need to satisfy their thirst even at the capital cost.

Tuesday, June 07, 2005

Kontradiksi

Kadang kala hal-hal yang sepertinya baik, belum tentu sepenuhnya baik. Pengen bukti? Hari ini (7 Juni 2005), gue nemu artikel menarik di situsnya BBC. Ada artikel yang berjudul: Soybean fever transform Paraguay. Artikel tersebut melukiskan perubahan yang terjadi di Paraguay akibat tingginya permintaan kacang kedelai dari RRC.

Menurut artikel tersebut, meningkatnya permintaan kacang kedelai dari RRC dipicu berubahnya gaya hidup. Kacang kedelai dianggap sebagai sumber makanan yang lebih sehat. Akibatnya lebih banyak orang yang mengkonsumsi makanan berbahan baku kacang kedelai.

Tingginya permintaan tersebut mengakibatkan meningkatnya investasi pada industri per-kacang kedelai-an. Karenanya, saat ini, Amerika Selatan, menjadi produsen utama kacang kedelai. Tingginya investasi mengakibatkan perputaran roda ekonomi yang lebih kencang. Banyak pedalaman Amerika Selatan akhirnya menggeliat, dan kehidupan sederhana petani setempat, berubah menjadi kehidupan yang lebih tidak sederhana.

Di satu sisi, hal tersebut adalah hal yang bagus. Tingginya investasi biasanya berujung pada perbaikan tingkat taraf hidup penduduk setempat. Namun, investasi tersebut juga mengakibatkan perubahan peruntukan lahan, dari hutan tadah hujan menjadi lahan pertanian. Akibatnya, hutan tadah hujan dunia yang semakin sedikit jumlahnya, menjadi semakin terancam.

Menarik bukan, betapa trend hidup sehat, yang seharusnya bisa memperbaiki cara hidup manusia menjadi lebih sehat, justru berpotensi menjadi pemicu hancurnya hutan tadah hujan.

Jadi apakah mengkonsumsi produk berbahan baku kacang kedelai sama merusaknya dengan penebangan hutan secara liar?

Friday, June 03, 2005

God is Good

Cerita ini dimulai pada hari Rabu(1 Juni 2005) malam. Waktu itu sepulang dari kantor, di kamar, gue mau mencopot sepatu. Jika biasanya sepatu gue, gue copot dengan bantuan tangan, entah kenapa, pada malam itu, sepatu gue, gue copot dengan menggunakan kaki saja.

Apa istimewanya kegiatan copot sepatu? Well, sebenarnya nggak ada. Cuman, pada hari naas itu, kegiatan tersebut membawa korban. Hak sepatu gue copot! Kok bisa??? Pada waktu dicopot, tumpuannya nggak bener, akibatnya tenaga gue mengakibatkan hak sepatu gue copot.

BENCANA!!! Soalnya saat ini gue cuman punya satu sepatu yang nyaman buat dipake. Kets gue digondol maling! :( btw gue heran, sepatu kets gue masih didoyanin maling, soalnya kets gue itu udah robek-robek.

Anyway setelah bongkar-bongkar kamar, gue berhasil nemu sepatu gue yang lama. Sepatu gue yang lama itu, udah gue beli semenjak gue SMA. Kalau dari segi merek, bahan, dan gengsi; jelas sepatu gue yang lama lebih bagus ketimbang sepatu gue yang jebol. Udah gitu, barang simpenan lagi. Itu sepatu cuman gue pake buat ke pesta doang. Jadi kondisinya masih bagus banget, cuman agak kusam dikit, gara-gara udah lama nggak disentuh.

So what's the catch? Sepatu tersebut ukurannya 41, sementara ukuran kaki gue 42. Yups! 1 size smaller than my foot. Berhubung gue nggak mungkin pake sendal jepit ke kantor, sepatu tersebut tetap gue pake. Trus sepatu gue yang haknya jebol, gue titipin ke ibu kost untuk diperbaiki sama tukang sol keliling.

Bagaimana kesannya pake sepatu satu ukuran lebih kecil? Pertama dipake, masih belum apa-apa, walau agak sempit. Lama kelamaan rasa agak sempit berubah jadi nyeri.Lalu rasa nyeri meningkat jadi rasa sakit. DAMN! It hurts like hell! Setelah sampe di kantor, gue memutuskan untuk memakai sendal jepit selama di kantor. Agak nyaman sich, sampe gue harus pake sepatu itu lagi waktu pulang kantor.

So, apa hubungannya cerita sepatu kekecilan dengan judul God is Good?

Begini hubungannya, hari itu, Kamis(2 Juni 2005), gue merasa jalan gue dimudahkan. Kalo pulang kantor, biasanya gue harus berdiri, jika gue memutuskan untuk naik Patas 86. Patas 86 itu jarang-jarang bo'! Akibatnya gue seringnya nyambung-nyambung, naik Kopaja 66/620 ke Perempatan Hero Mampang, abis itu naik Metromini 75 ke Terminal Pasar Minggu, setelah itu akhirnya naik Mini Artha "tanggung" ke Depok. Pada hari itu, gue merasa dapat double luck, begitu gue turun, langsung dapat Patas 86, dan gue dapat duduk!

Cerita ini nggak selesai di sini, sebelum sampe di Depok, gue sempet khawatir. Soalnya, gue harus menyeberang jalan Margonda. Jalan Margonda itu RUAME.... sekali. Saking ramenya, kadang-kadang gue harus "jumpalitan" untuk menyeberang. Pada malam itu, yet another surprise, jalan Margonda nggak serame biasanya, jadi gue bisa selamat menyeberang jalan, walaupun agak terpincang-pincang.

As if that night consist only of surprises, i've got another one. Gue orangnya nggak percaya ama insight, menurut gue kalo elo nggak tahu, ya berarti elo memang nggak tahu. Nggak perlu mengulur-ngulur waktu ujian, dengan harapan dapet wangsit. Entah dari mana, malam itu, gue dapet insight! Untuk pertama kali dalam hidup gue, gue memakai sepatu dengan menginjak belakangnya. Alhasil gue bisa nyampe kost dengan rasa sakit minimal.:D

Waktu gue nyampe di kost. Gue mendapati kalo sepatu gue yang haknya jebol, udah dibenerin. Hm...it's a night filled with good things!:D

Moral of the story:
  1. Jangan buka sepatu pake kaki, entar rusak!
  2. Sedia sepatu cadangan, just in case, sepatu elo haknya jebol gara-gara dibuka pake kaki.
  3. Sore feet isn't a good thing.
  4. God is good, he works in misterious ways, sometimes through surprises and insights.
btw this story didn;t end that night, on the following morning, I ask around at the office. I've found out that one of my office's driver shoe's size is 41 and coincidently he, at the moment, didn't have a shoe. So as you guess it, I give him that shoes.