Distro sebenarnya kata yang jarang2 punya arti berbeda buat gue dan teman2 gue. Buat sejumlah orang, terutama yang sering diistilahkan sebagai orang gaul, kata distro deket sekali dengan kata baju baru, Bandung, dan Factory Outlet. Sementara buat sejumlah teman gue yang lain, distro adalah kata yang berhubungan dengan Linux, Aplikasi, dan Komputer. Jarang-jarang sekali ada satu kata yang diminati oleh dua kalangan sekaligus, geek dan gaul-ers.
Akar kata distro bagi kedua kalangan tersebut sebenarnya sama, yaitu distribution. Lalu apa sich, yang membedakan antara baju baru dan pingguin?
Bagi gaul-ers, distro adalah sarana distribusi produk fashion alternatif. Jika sebelumnya produk fashion, mengalir dari produsen ke konsumen lewat saluran-saluran resmi: pabrik/produsen ---> pedagang besar ---> konsumen, dengan distro saluran tersebut menjadi: pabrik/produsen ---> konsumen. Biasanya cara ini ditempuh oleh produsen2 produk fashion skala kecil.
Ada sejunlah alasan, kenapa akhirnya produsen2 produk fashion tersebut menempuh jalur pemasaran via distro. Tapi sepertinya yang menjadi alasan utama adalah sistem distribusi produk fashion yang sudah mirip2 kartel. Hal ini mengakibatkan pemain-pemain baru menjadi susah sekali memasarkan produknya. Butuh modal besar, yang pada ujungnya mengakibatkan harga produk fashion menjadi tinggi. Dengan distro, produsen produk fashion langsung menyasar ke konsumennya, akibatnya adalah win-win solution bagi kedua belah pihak. Bagi produsen, keuntungannya adalah: biaya distribusi yang murah, sedangkan bagi konsumen adalah: harga barang konsumsi yang lebih murah.
Bagi para geek, distro adalah kumpulan kernel, biasanya Linux, dan aplikasi2 pendukung, sehingga membentuk suatu kesatuan sistem operasi komputer yang lengkap. Distro muncul sebagai suatu fenomena akibat prinsip free as in freedom, not beers, yang dianut oleh para developer free software. Di dunia free software, bertebaran software-software free. Karena prinsip kebebasan yang dianut, maka setiap orang berhak memaketkan software2 tersebut.
Pada prinsip yang digagas oleh Richard M. Stallman, pendiri gerakan free software, dan GNU, GNU's Not Unix, setiap orang bebas mengembangkan software untuk kepentingannya sendiri dan bebas untuk memberikan software tersebut untuk turut dikembangkan oleh orang lain. (Cek http://www.gnu.org/ untuk penjelasan lebih lanjut tentang free software movement.)
Cukup jauh juga ya, arti distro bagi gaul-ers dan geek. Tapi sebenarnya kata tersebut punya arti yang sama bagi kedua kalangan tersebut. Arti tersebut adalah perlawanan terhadap pihak-pihak yang incumbent. Kalau di dunia fashion, itu berarti pihak-pihak yang terlibat dalam jalur distribusi fashion yang normal, sedangkan in a geek world, incumbent means Microsoft, and other big companies, such as IBM and Sun Systems.
So afterall, it's not that different, isn't it? Or is it?
Akar kata distro bagi kedua kalangan tersebut sebenarnya sama, yaitu distribution. Lalu apa sich, yang membedakan antara baju baru dan pingguin?
Bagi gaul-ers, distro adalah sarana distribusi produk fashion alternatif. Jika sebelumnya produk fashion, mengalir dari produsen ke konsumen lewat saluran-saluran resmi: pabrik/produsen ---> pedagang besar ---> konsumen, dengan distro saluran tersebut menjadi: pabrik/produsen ---> konsumen. Biasanya cara ini ditempuh oleh produsen2 produk fashion skala kecil.
Ada sejunlah alasan, kenapa akhirnya produsen2 produk fashion tersebut menempuh jalur pemasaran via distro. Tapi sepertinya yang menjadi alasan utama adalah sistem distribusi produk fashion yang sudah mirip2 kartel. Hal ini mengakibatkan pemain-pemain baru menjadi susah sekali memasarkan produknya. Butuh modal besar, yang pada ujungnya mengakibatkan harga produk fashion menjadi tinggi. Dengan distro, produsen produk fashion langsung menyasar ke konsumennya, akibatnya adalah win-win solution bagi kedua belah pihak. Bagi produsen, keuntungannya adalah: biaya distribusi yang murah, sedangkan bagi konsumen adalah: harga barang konsumsi yang lebih murah.
Bagi para geek, distro adalah kumpulan kernel, biasanya Linux, dan aplikasi2 pendukung, sehingga membentuk suatu kesatuan sistem operasi komputer yang lengkap. Distro muncul sebagai suatu fenomena akibat prinsip free as in freedom, not beers, yang dianut oleh para developer free software. Di dunia free software, bertebaran software-software free. Karena prinsip kebebasan yang dianut, maka setiap orang berhak memaketkan software2 tersebut.
Pada prinsip yang digagas oleh Richard M. Stallman, pendiri gerakan free software, dan GNU, GNU's Not Unix, setiap orang bebas mengembangkan software untuk kepentingannya sendiri dan bebas untuk memberikan software tersebut untuk turut dikembangkan oleh orang lain. (Cek http://www.gnu.org/ untuk penjelasan lebih lanjut tentang free software movement.)
Cukup jauh juga ya, arti distro bagi gaul-ers dan geek. Tapi sebenarnya kata tersebut punya arti yang sama bagi kedua kalangan tersebut. Arti tersebut adalah perlawanan terhadap pihak-pihak yang incumbent. Kalau di dunia fashion, itu berarti pihak-pihak yang terlibat dalam jalur distribusi fashion yang normal, sedangkan in a geek world, incumbent means Microsoft, and other big companies, such as IBM and Sun Systems.
So afterall, it's not that different, isn't it? Or is it?
No comments:
Post a Comment